Skip to main content

Kesalahan yang Tak Ingin Aku Ulang


     Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, seharusnya kita tak perlu bertemu sejak awal. Kalau menyayangimu adalah sebuah keikhlasan, rasanya aku tak perlu membuang waktu untuk menimbun harapan lebih dalam.     

  

    Aku tak pernah menyangka kita akan menjadi asing walau pada akhirnya semua pertemuan selalu saja mempunyai akhir. Aku terlalu tinggi meletakkan ekspektasiku terhadapmu sehingga aku selalu terlena atas sikapmu. Terkadang aku masih memikirkannya, ‘Kenapa harus aku?’, padahal rasanya tak pernah aku mencintaimu dengan ragu. Rasanya tak pernah pula aku menyambutmu dengan senyum yang palsu. Tapi, kenapa? Kenapa harus aku?

 

    Segala sesuatu pasti punya ciri khasnya, seperti 'Bogor' yang selalu lekat dengan kata 'hujan' dan menurutku, 'Kau' akan selalu lekat dengan 'keluguan'. Lucu sekali rasanya kalau aku harus mengingat keluguanmu. Keluguan palsu yang sukses kau buat untuk membodohiku yang lambat laun bisa kusadari sehingga aku dapat dengan gontai menertawakan diriku sendiri yang bodoh ini—bodoh karena sudah tertipu olehmu. Ya, oleh keluguanmu.

 

      Kalau saja waktu bisa diulang, aku tak ingin menerimamu seperti waktu itu—datang tanpa permisi, mendobrak masuk, kemudian pergi seenaknya tanpa memikirkan perasaanku. Entah kenapa pertahananku selalu saja runtuh dibuat oleh kelakuanmu, or maybe I'm just too addicted in loving you. Kau adalah candu yang telah kuciptakan sendiri tanpa aku sadar ternyata hal itu pelan-pelan menggerogotiku sampai habis tak bersisa.

 

    Cinta yang kau bilang sedalam samudera itu barangkali tak sedalam itu. Mungkin saja kita punya perbedaan persepsi dalam mengartikan ini. Semua janjimu seperti jejak kaki yang melangkah pergi—tak tampak wujudnya, hilang entah kemana sampai aku tersadar bahwa yang memulai lah, yang lebih dulu meninggalkan.

 

    Berulang kali aku pasrahkan kisah kita kepada Tuhan, bahkan pada saat dimana aku relapse dan berusaha bangkit untuk melupakanmu. Mungkin memang inilah jalan yang terbaik. Kita hidup dengan jalan kita sendiridengan doa yang akan selalu aku minta kepada Tuhan, selamat melanjutkan hidup masing-masing; untuk aku, kamu, dan kita.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Rasa dalam Secangkir Cokelat Panas

          Aku tak tahu persisnya sejak kapan rasa ini mulai muncul. Manis dan pahit layaknya secangkir cokelat panas yang kau berikan saat pertama kali kita bertemu; rasa manis yang selalu saja berhasil membuatku tersenyum, pun rasa pahit yang terkadang berhasil membuatku melamun.            H ari itu, sambil menyesap secangkir cokelat panas yang kau berikan kepadaku, kita saling memandang dan tersenyum. Aku ingat betul, kau hadir di saat langit diselimuti oleh awan yang membuatku berpikir bahwa kau akan sama teduhnya dengan langit waktu itu. Hal-hal kecil yang kau berikan, selalu saja berhasil membuatku semakin yakin atas sikapmu. Namun nyatanya aku salah, hal-hal kecil itu adalah caramu untuk mengkhianatiku.           Aku merasa bodoh. Rasanya ingin marah, tapi aku tak mampu. Aku tak mampu untuk bertemu denganmu lagi. Aku takut. Takut akan kebohonganmu lagi.          ...

Langit

Pernah berada di satu fase yang bikin aku merasa serba bingung, padahal (dulu) aku selalu merasa percaya diri sama apapun yang aku pilih. Dibilang naif? Sudah biasa. Dibilang terlalu baik? Sering. Aku sampai nggak percaya kalau ada hal-hal yang seperti itu. Karena, ya, aku merasa itu memang kewajiban sebagai manusia. Berbuat baik; kalau ada yang minta tolong sebisa mungkin ditolong, memberi tanpa diminta, gamau pelit selagi ada dan bisa, nggak mau menganggap orang lain itu jahat walaupun ‘orang itu’ punya sesuatu hal yang nggak enak ke orang terdekatku. Karena, ya, memang begitu caraku memandang orang lain; ‘Semua orang pada dasarnya baik, tapi lingkunganlah yang membuatnya jahat.’ Tapi setelah badai itu datang dan aku terombang-ambing dengan perasaanku sendiri, aku merasa kalau perasaanku itu ternyata penting dan aku sadar bahwa selama ini aku sering mengabaikan perasaanku dulu. Hal-hal itu jadi mulai menggoyangku karena aku nggak bisa berdiri dengan kuat lagi. Awalnya masih bisa berd...