Aku memilih mundur untuk segala hal yang pernah dilewati. mengikis kenangan yang jelas & buram dengan satu waktu hingga aku berpikir, jika aku tetap berdiri disini, apakah bisa menjadi sebuah keputusan yang salah? Atau malah sebaliknya? Aku tau pasti, ada kalanya ketika sebuah hal tak bisa diutarakan lewat kata—bahkan dengan satu huruf pun, kita lebih memilih untuk mundur selangkah dan membenamkan diri dalam keheningan padahal keheningan itu ternyata bisa membuat perasaan kita menjadi mati dengan sendirinya secara perlahan-lahan tanpa kita sadari. Benang merah yang melintang bersamaan dengan jarak yang ada, perlahan menjadi rumit dan tak berujung. Dia memaksa untuk terus bertumpang tindih di dalam pikiran kita yang sedang kalut. Seperti katamu pagi silam, mungkin kau yang sudah terlalu lelah dengan semuanya, atau mungkin… Justru aku? Tak munafik, aku bukanlah seseorang yang selalu kuat untuk menipu banyak jarak yang terbentang di antara kita walaupun kita terlalu banyak membunuh wa...
Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, seharusnya kita tak perlu bertemu sejak awal. Kalau menyayangimu adalah sebuah keikhlasan, rasanya aku tak perlu membuang waktu untuk menimbun harapan lebih dalam. Aku tak pernah menyangka kita akan menjadi asing walau pada akhirnya semua pertemuan selalu saja mempunyai akhir. Aku terlalu tinggi meletakkan ekspektasiku terhadapmu sehingga aku selalu terlena atas sikapmu. Terkadang aku masih memikirkannya, ‘Kenapa harus aku?’, padahal rasanya tak pernah aku mencintaimu dengan ragu. Rasanya tak pernah pula aku menyambutmu dengan senyum yang palsu. Tapi, kenapa? Kenapa harus aku? Segala sesuatu pasti punya ciri khasnya, seperti 'Bogor' yang selalu lekat dengan kata 'hujan' dan menurutku, 'Kau' akan selalu lekat dengan 'keluguan'. Lucu sekali rasanya kalau aku harus mengingat keluguanmu. Keluguan palsu yang sukses kau buat untuk membodohi...