Skip to main content

Posts

Benang Merah

Aku memilih mundur untuk segala hal yang pernah dilewati. mengikis kenangan yang jelas & buram dengan satu waktu hingga aku berpikir, jika aku tetap berdiri disini, apakah bisa menjadi sebuah keputusan yang salah? Atau malah sebaliknya? Aku tau pasti, ada kalanya ketika sebuah hal tak bisa diutarakan lewat kata—bahkan dengan satu huruf pun, kita lebih memilih untuk mundur selangkah dan membenamkan diri dalam keheningan padahal keheningan itu ternyata bisa membuat perasaan kita menjadi mati dengan sendirinya secara perlahan-lahan tanpa kita sadari. Benang merah yang melintang bersamaan dengan jarak yang ada, perlahan menjadi rumit dan tak berujung. Dia memaksa untuk terus bertumpang tindih di dalam pikiran kita yang sedang kalut. Seperti katamu pagi silam, mungkin kau yang sudah terlalu lelah dengan semuanya, atau mungkin… Justru aku? Tak munafik, aku bukanlah seseorang yang selalu kuat untuk menipu banyak jarak yang terbentang di antara kita walaupun kita terlalu banyak membunuh wa...
Recent posts

Kesalahan yang Tak Ingin Aku Ulang

      Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, seharusnya kita tak perlu bertemu sejak awal. Kalau menyayangimu adalah sebuah keikhlasan, rasanya aku tak perlu membuang waktu untuk menimbun harapan lebih dalam.                Aku tak pernah menyangka kita akan menjadi asing walau pada akhirnya semua pertemuan selalu saja mempunyai akhir. Aku terlalu tinggi meletakkan ekspektasiku terhadapmu sehingga aku selalu terlena atas sikapmu. Terkadang aku masih memikirkannya, ‘Kenapa harus aku?’, padahal rasanya tak pernah aku mencintaimu dengan ragu. Rasanya tak pernah pula aku menyambutmu dengan senyum yang palsu. Tapi, kenapa? Kenapa harus aku?       Segala sesuatu pasti punya ciri khasnya, seperti 'Bogor' yang selalu lekat dengan kata 'hujan' dan menurutku, 'Kau' akan selalu lekat dengan 'keluguan'. Lucu sekali rasanya kalau aku harus mengingat keluguanmu. Keluguan palsu yang sukses kau buat untuk membodohi...

Sebuah Rasa dalam Secangkir Cokelat Panas

          Aku tak tahu persisnya sejak kapan rasa ini mulai muncul. Manis dan pahit layaknya secangkir cokelat panas yang kau berikan saat pertama kali kita bertemu; rasa manis yang selalu saja berhasil membuatku tersenyum, pun rasa pahit yang terkadang berhasil membuatku melamun.            H ari itu, sambil menyesap secangkir cokelat panas yang kau berikan kepadaku, kita saling memandang dan tersenyum. Aku ingat betul, kau hadir di saat langit diselimuti oleh awan yang membuatku berpikir bahwa kau akan sama teduhnya dengan langit waktu itu. Hal-hal kecil yang kau berikan, selalu saja berhasil membuatku semakin yakin atas sikapmu. Namun nyatanya aku salah, hal-hal kecil itu adalah caramu untuk mengkhianatiku.           Aku merasa bodoh. Rasanya ingin marah, tapi aku tak mampu. Aku tak mampu untuk bertemu denganmu lagi. Aku takut. Takut akan kebohonganmu lagi.          ...

Ranting Pohon

Aku menaiki sepeda motor bersama seorang lelaki dengan jaket hijaunya, sedangkan aku di belakangnya dengan jaket jeans kesayangan yang kalau dikira-kira sudah berumur 4 tahun lamanya. ‘Tumben-tumbennya langit secerah ini’, batinku. Pagi ini langit memang cerah sekali—berwarna biru muda dengan beberapa awan yang tampak seperti gulali yang disobek di pasar malam. Gedung-gedung yang menjulang tinggi pun diterpa oleh cerahnya mentari pagi. Ada beberapa lampu jalan yang belum padam di sisi kanan dan kiri jalan yang aku lewati bersama lelaki berjaket hijau ini. Sungguh indah. Pagiku indah sekali. Tapi, ada satu hal yang kulihat berbeda. Saat kuperhatikan langit, ada satu pohon yang tampak kosong di antara pohon lainnya. Tak ada sedikitpun daun hijau yang bertenggen di ranting-rantingnya padahal pohon-pohon lain tampak cantik dengan daun yang menghiasinya. Kabel-kabel yang berantakan alurnya pun tampak melintasi ranting-ranting yang kosong itu. Sambil melintasinya, masih kuperhatikan pohon it...

Tuhan, Pantaskah Aku untuk Hidup?

Akulah si manusia yang hatinya terbolak-balik. Rasanya baru tadi aku merasa senang, lantas kenapa sekarang sudah merasa sedih? Berulang kali aku bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, pantaskah aku untuk hidup?” atau “Tuhan, pantaskah aku bahagia?”. Sungguh pertanyaan bodoh yang membuat Tuhan murka yang padahal aku sudah tahu sendiri jawabannya tanpa Tuhan pun ikut menjawab. Tapi, sungguh, sebenarnya aku pun masih bingung kenapa bisa begitu.

Tuhan Maha Baik

Tuhan Maha Baik! Jadi, ada beberapa masalah di tempat kerjaku yang mengharuskanku untuk memikirkannya. Namun, seperti tulisanku sebelumnya—aku berusaha untuk terus berprasangka baik kepada Tuhan, aku belajar dari situ. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku menyembah. Kewajiban dua rakaat aku lakukan, tak lupa dua rakaat sebelumnya, pun setelahnya aku berdoa untuk diberikan kelancaran dan kemudahan di setiap langkahku pada hari ini. Seluruh kekhawatiran, aku coba runtuhkan. Segala kegelisahan, aku coba hiraukan. Segala keresahan, aku coba tundukkan. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk percaya kepada Tuhanku. Aku percaya pertolongan Tuhanku. Ternyata benar, prasangka baikku tak ada satupun yang meleset. Doa-doa yang kugaungkan ke langit ternyata sudah didengar dan dikabulkan. Mulai dari hal yang remeh-temeh sekalipun ternyata Tuhan perhatikan. Allahuakbar . Kau mau tahu urusan apa saja yang diurus oleh Tuhanku? Mulai dari saat aku berangkat menuju tempat kerja, di perempatan lampu apil, se...

Langit

Pernah berada di satu fase yang bikin aku merasa serba bingung, padahal (dulu) aku selalu merasa percaya diri sama apapun yang aku pilih. Dibilang naif? Sudah biasa. Dibilang terlalu baik? Sering. Aku sampai nggak percaya kalau ada hal-hal yang seperti itu. Karena, ya, aku merasa itu memang kewajiban sebagai manusia. Berbuat baik; kalau ada yang minta tolong sebisa mungkin ditolong, memberi tanpa diminta, gamau pelit selagi ada dan bisa, nggak mau menganggap orang lain itu jahat walaupun ‘orang itu’ punya sesuatu hal yang nggak enak ke orang terdekatku. Karena, ya, memang begitu caraku memandang orang lain; ‘Semua orang pada dasarnya baik, tapi lingkunganlah yang membuatnya jahat.’ Tapi setelah badai itu datang dan aku terombang-ambing dengan perasaanku sendiri, aku merasa kalau perasaanku itu ternyata penting dan aku sadar bahwa selama ini aku sering mengabaikan perasaanku dulu. Hal-hal itu jadi mulai menggoyangku karena aku nggak bisa berdiri dengan kuat lagi. Awalnya masih bisa berd...