Aku memilih mundur untuk segala hal yang pernah dilewati. mengikis kenangan yang jelas & buram dengan satu waktu hingga aku berpikir, jika aku tetap berdiri disini, apakah bisa menjadi sebuah keputusan yang salah? Atau malah sebaliknya?
Aku tau pasti, ada kalanya ketika sebuah hal tak bisa diutarakan lewat kata—bahkan dengan satu huruf pun, kita lebih memilih untuk mundur selangkah dan membenamkan diri dalam keheningan padahal keheningan itu ternyata bisa membuat perasaan kita menjadi mati dengan sendirinya secara perlahan-lahan tanpa kita sadari.
Benang merah yang melintang bersamaan dengan jarak yang ada, perlahan menjadi rumit dan tak berujung. Dia memaksa untuk terus bertumpang tindih di dalam pikiran kita yang sedang kalut.
Seperti katamu pagi silam, mungkin kau yang sudah terlalu lelah dengan semuanya, atau mungkin… Justru aku?
Tak munafik, aku bukanlah seseorang yang selalu kuat untuk menipu banyak jarak yang terbentang di antara kita walaupun kita terlalu banyak membunuh waktu yang aku juga tak tahu kapan akan datang. Semua tetap diusahakan dengan segala macam kemungkinan yang ada.
Layaknya sebuah perjudian, aku tak bisa dengan lantang menentukan akhir dari cerita kita walau dengan harapan yang besar, aku tetap ingin bersamamu. Energiku sudah tak begitu besar untuk mengukir cerita lainnya dan aku rasa kau paham akan itu.
Comments
Post a Comment