Skip to main content

MENJADI JOMBLO ITU MENGUNTUNGKAN


Ada yang bilang, ‘jomblo’ dengan ‘single’ itu berbeda. Kalau single itu prinsip dan jomblo itu nasib. Tapi, mau single atau jomblo ya tetap aja orang yang bersangkutan itu sendiri tanpa ada yang menemani. Iya nggak? Nah, ternyata menjadi seorang jomblo itu nggak seburuk yang ada di akal fikiran kalian loh; seperti: mojok di kamar pas satnight, nggak ada yang ngingatin makan, minum, mandi, boker, tidur, dll. Tapi, menjadi seorang jomblo itu juga ada keuntungannya loh. Apa aja sin? Check it out!

HEMAT DUIT


 Udah jelas banget untuk poin yang satu ini. Jadi seorang jomblo itu nggak bakal buang-buang duit untuk menyenangkan hati pasangan yang belum tentu jelas itu. Gimana enggak? Misalnya nih ya, kalau kita pergi bareng, otomatis harus nganterin doi pulang. Trus kalau doi ulangtahun pasti malu kalau enggak ngasih apa-apa. Iya nggak?




APA YANG DIINGINKAN CEPAT TERKABUL


Ketika kita bisa mengurangi gaya hidup konsumtif kita demi si doi, otomatis uang kita pun akan bertambah dan itu bisa menambah banyak tabungan kita. Kalau kita udah nabung, pasti apa yang kita inginkan bakal cepat terkabul kan?


NGGAK RIBET
Nggak seperti halnya orang pacaran, jomblo itu bebas untuk melakukan apa aja. Kalau orang yang berpacaran itu kan biasanya ya kalau kemana-mana bilang dulu sama doi nya. Kalau mau ini itu laporanlah, harus ngingatin ini itulah. Alah, ribet! Coba jomblo, pasti kalau mau apa aja terserah dia, makan batulah, jungkir balik lah, nggak ada yang bakal ngelarang kecuali emaknya.




LEBIH FOKUS

Dengan tidak tersitanya waktu sang jomblo, otomatis dia akan lebih fokus dengan apa yang dikerjakannya. Tau nggak, suatu proses itu enggak bakal membohongi hasilnya. Nah, kalo prosesnya aja udah bagus pasti ya hasilnya juga bagus dong ya?

Nah, gimana kawan? Menjadi jomblo itu enak kan? Jadi, jikalau suatu saat kalian merasa kecewa dengan salah satu anugrah yang diberikan Allah kepada kalian ini, lihatlah dampak positifnya. Jadilah jomblo yang punya kualitas yang bagus. Jangan lelah untuk memperbaiki diri menjadi yang lebih baik. Suatu saat kalau sudah tiba waktunya, Allah akan memberikan pasangan hidup yang pantas untuk kalian. Oke guys? Sekian untuk postingan ini. Thankyou for your attention J HIDUP JOMBLO!!!


Comments

Popular posts from this blog

Kesalahan yang Tak Ingin Aku Ulang

      Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, seharusnya kita tak perlu bertemu sejak awal. Kalau menyayangimu adalah sebuah keikhlasan, rasanya aku tak perlu membuang waktu untuk menimbun harapan lebih dalam.                Aku tak pernah menyangka kita akan menjadi asing walau pada akhirnya semua pertemuan selalu saja mempunyai akhir. Aku terlalu tinggi meletakkan ekspektasiku terhadapmu sehingga aku selalu terlena atas sikapmu. Terkadang aku masih memikirkannya, ‘Kenapa harus aku?’, padahal rasanya tak pernah aku mencintaimu dengan ragu. Rasanya tak pernah pula aku menyambutmu dengan senyum yang palsu. Tapi, kenapa? Kenapa harus aku?       Segala sesuatu pasti punya ciri khasnya, seperti 'Bogor' yang selalu lekat dengan kata 'hujan' dan menurutku, 'Kau' akan selalu lekat dengan 'keluguan'. Lucu sekali rasanya kalau aku harus mengingat keluguanmu. Keluguan palsu yang sukses kau buat untuk membodohi...

Sebuah Rasa dalam Secangkir Cokelat Panas

          Aku tak tahu persisnya sejak kapan rasa ini mulai muncul. Manis dan pahit layaknya secangkir cokelat panas yang kau berikan saat pertama kali kita bertemu; rasa manis yang selalu saja berhasil membuatku tersenyum, pun rasa pahit yang terkadang berhasil membuatku melamun.            H ari itu, sambil menyesap secangkir cokelat panas yang kau berikan kepadaku, kita saling memandang dan tersenyum. Aku ingat betul, kau hadir di saat langit diselimuti oleh awan yang membuatku berpikir bahwa kau akan sama teduhnya dengan langit waktu itu. Hal-hal kecil yang kau berikan, selalu saja berhasil membuatku semakin yakin atas sikapmu. Namun nyatanya aku salah, hal-hal kecil itu adalah caramu untuk mengkhianatiku.           Aku merasa bodoh. Rasanya ingin marah, tapi aku tak mampu. Aku tak mampu untuk bertemu denganmu lagi. Aku takut. Takut akan kebohonganmu lagi.          ...

Langit

Pernah berada di satu fase yang bikin aku merasa serba bingung, padahal (dulu) aku selalu merasa percaya diri sama apapun yang aku pilih. Dibilang naif? Sudah biasa. Dibilang terlalu baik? Sering. Aku sampai nggak percaya kalau ada hal-hal yang seperti itu. Karena, ya, aku merasa itu memang kewajiban sebagai manusia. Berbuat baik; kalau ada yang minta tolong sebisa mungkin ditolong, memberi tanpa diminta, gamau pelit selagi ada dan bisa, nggak mau menganggap orang lain itu jahat walaupun ‘orang itu’ punya sesuatu hal yang nggak enak ke orang terdekatku. Karena, ya, memang begitu caraku memandang orang lain; ‘Semua orang pada dasarnya baik, tapi lingkunganlah yang membuatnya jahat.’ Tapi setelah badai itu datang dan aku terombang-ambing dengan perasaanku sendiri, aku merasa kalau perasaanku itu ternyata penting dan aku sadar bahwa selama ini aku sering mengabaikan perasaanku dulu. Hal-hal itu jadi mulai menggoyangku karena aku nggak bisa berdiri dengan kuat lagi. Awalnya masih bisa berd...