Skip to main content

Be Blessed. Be A Blessing.

    

Diambil oleh @dlsndyy

    Udah mau ganti tahun aja ya? Gak kerasa ternyata udah masuk bulan terakhir di 2023 ini. Kalau boleh cerita dan balik ke awal tahun kebelakang, rasa-rasanya masih banyak "kehilangan" di tahun ini. Everyone has their own struggle. Iya, tiap orang pasti punya struggle-nya masing-masing. & That's the thing. Pasti. For sure.

    Aku punya kehilangan, kamu pun begitu. Tapi, versi kehilangan kita berbeda dan bukan berarti ga boleh ngeluh, merasa kehilangan, dan merasa sedih, kan? Walaupun rasanya tahun ini banyak hal yang belum tercapai, yaa, itu sebenarnya gapapa banget, karena memang gak semua rasa harus bahagia. Ya, cuma aja, kita memang dituntut untuk belajar ikhlas dan berdamai dengan 'kehilangan-kehilangan' itu. Kalau mau menerapkan tentang, "law of attraction", sebenarnya kita itu gak gagal, cuma gak sampe finish aja. Ada yang udah di seperempat jalan, sepatuh jalan, bahkan udah mau sampai, dan menurutku itu bukan gagal.

    Kalau aku, tahun ini yang paling membekas di hidup yaa, bagaimanapun itu pasti tentang 'koas', karena aku rasa that's my another step in my life. Aku rasa semua anak FK juga akan setuju dengan itu. Sempat bilang ke diri sendiri, "Kok aku gak menghasilkan sesuatu yang luar biasa kayak mereka, ya?", atau "Kok aku gini ya? Kok aku gitu ya?", tapi setelah diperdalam lagi, ternyata banyak hal yang bisa aku ambil hikmah dibalik semua rasa itu; aku bisa lebih care ke keluarga karena ngepasin banget di keluarga lagi ada struggle-nya sendiri juga, aku bisa lebih belajar ikhlas dan damai sama keadaan, lebih sayang sama diriku sendiri, dan mungkin kalau aku di lajur yang sama dengan yang lain, belum tentu aku bisa bertumbuh untuk berpikir seperti ini. "Gapapa, sesekali. Bertahan dengan keadaan yang kayagini juga bagus kok. Nanti kita fight lagi kalau udah bisa. Nanti, ya, istirahat dulu".

What's yours will eventually be yours. The sun will rise and the storm will pass.

Sekarang, Alhamdulillah dan InsyaaAllah aku bisa berjuang lagi, udah back on fire lagi dengan pertolongan Allah dan lewat banyak orang-orang tersayang yang selalu keep on chitchat untuk menyemangati.

Once again, everyone has their own struggle. Hidup itu isinya memang penuh dengan ujian. Tujuannya, yaa, untuk menguji kita. Hari ini ada masalah, besok ya pasti ada masalah lagi, tapi bagaimana caranya untuk fight sama masalah itu dan jangan lupa kalau pertolongan Allah itu pasti selalu ada bagaimanapun cara dan jalanNya.

Be brave & be strong. Be blessed & be a blessing.

With love,

Sindy :)

Comments

Popular posts from this blog

Kesalahan yang Tak Ingin Aku Ulang

      Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, seharusnya kita tak perlu bertemu sejak awal. Kalau menyayangimu adalah sebuah keikhlasan, rasanya aku tak perlu membuang waktu untuk menimbun harapan lebih dalam.                Aku tak pernah menyangka kita akan menjadi asing walau pada akhirnya semua pertemuan selalu saja mempunyai akhir. Aku terlalu tinggi meletakkan ekspektasiku terhadapmu sehingga aku selalu terlena atas sikapmu. Terkadang aku masih memikirkannya, ‘Kenapa harus aku?’, padahal rasanya tak pernah aku mencintaimu dengan ragu. Rasanya tak pernah pula aku menyambutmu dengan senyum yang palsu. Tapi, kenapa? Kenapa harus aku?       Segala sesuatu pasti punya ciri khasnya, seperti 'Bogor' yang selalu lekat dengan kata 'hujan' dan menurutku, 'Kau' akan selalu lekat dengan 'keluguan'. Lucu sekali rasanya kalau aku harus mengingat keluguanmu. Keluguan palsu yang sukses kau buat untuk membodohi...

Sebuah Rasa dalam Secangkir Cokelat Panas

          Aku tak tahu persisnya sejak kapan rasa ini mulai muncul. Manis dan pahit layaknya secangkir cokelat panas yang kau berikan saat pertama kali kita bertemu; rasa manis yang selalu saja berhasil membuatku tersenyum, pun rasa pahit yang terkadang berhasil membuatku melamun.            H ari itu, sambil menyesap secangkir cokelat panas yang kau berikan kepadaku, kita saling memandang dan tersenyum. Aku ingat betul, kau hadir di saat langit diselimuti oleh awan yang membuatku berpikir bahwa kau akan sama teduhnya dengan langit waktu itu. Hal-hal kecil yang kau berikan, selalu saja berhasil membuatku semakin yakin atas sikapmu. Namun nyatanya aku salah, hal-hal kecil itu adalah caramu untuk mengkhianatiku.           Aku merasa bodoh. Rasanya ingin marah, tapi aku tak mampu. Aku tak mampu untuk bertemu denganmu lagi. Aku takut. Takut akan kebohonganmu lagi.          ...

Langit

Pernah berada di satu fase yang bikin aku merasa serba bingung, padahal (dulu) aku selalu merasa percaya diri sama apapun yang aku pilih. Dibilang naif? Sudah biasa. Dibilang terlalu baik? Sering. Aku sampai nggak percaya kalau ada hal-hal yang seperti itu. Karena, ya, aku merasa itu memang kewajiban sebagai manusia. Berbuat baik; kalau ada yang minta tolong sebisa mungkin ditolong, memberi tanpa diminta, gamau pelit selagi ada dan bisa, nggak mau menganggap orang lain itu jahat walaupun ‘orang itu’ punya sesuatu hal yang nggak enak ke orang terdekatku. Karena, ya, memang begitu caraku memandang orang lain; ‘Semua orang pada dasarnya baik, tapi lingkunganlah yang membuatnya jahat.’ Tapi setelah badai itu datang dan aku terombang-ambing dengan perasaanku sendiri, aku merasa kalau perasaanku itu ternyata penting dan aku sadar bahwa selama ini aku sering mengabaikan perasaanku dulu. Hal-hal itu jadi mulai menggoyangku karena aku nggak bisa berdiri dengan kuat lagi. Awalnya masih bisa berd...