Skip to main content

Posts

Cerita Hari Ini : Merapi Meletus Lagi.

Jadi ceritanya tadi aku lagi di kamar. Aku denger suara gemuruh kuat banget, tapi mungkin yang aku dengar sekarang gak sekuat pas merapi meletus kemarin. Awalnya aku mengira itu truk pasir lewat karena kebetulan di dusunku ada pengerjaan jalan. Tapi kok suaranya lama sekali dan semakin lama semakin membesar. Langit-langit kamarku bergetar. Aku juga mendengar suara orang ribut-ribut di luar. Bude aku manggil-manggil suaminya, "Bapaaaak... Bapaaak!!". Kebetulan pakde sedang sakit struk saat ini, jadi cuma bisa ngandalin kursi roda dan bagian tubuhnya yang sebelah kiri. Nggak lama, pintu kamarku di gedor-gedor sama mas ku (abang). Saat aku buka pintu. Ku lihat wajahnya sudah panik. Dia bilang, "Keluar, keluar! Merapi meletus!".

Aku langsung membatin, 'waduh ternyata suara merapi.'

Untuk orang yang baru pertama kali ngalamin hal begini, aku panik setengah mati. Hampir saja aku keluar tak mengenakan jilbab. Saat itu, aku ingin nangis rasanya dan langsung teringat …
Recent posts

Tentang Dia

Iringi aku sayang
Aku pergi untukmu
Merangkai mimpi lewati waktu
Semua itu jalan kita
Akan ku jaga, kubina slamanya
Rasa didalam hati, walau diriku jauh
Kuingin kau menunggu, sampai kudatang padamu

(Seandainya - Sheila On 7)

***

Aku selalu bertanya-tanya, apakah kau sudah lelah untuk merindukanku? Mendengar suaraku saat malam tiba? Berkisah tentang hal apapun kepadaku?  Apakah kau sudah lelah, sayang?

Saat kau bersamanya, apakah kau memanggilnya seperti kau memanggilku saat bersamaku? Aku ingin bertanya, apakah sama rasanya, sayang?

Kau bilang itu caramu agar tak bosan terhadapku. Katamu juga, semua itu tak berarti apa-apa buatmu. Tapi apakah kau tahu, itu selalu membunuhku perlahan-lahan di setiap waktu?

Katamu kau sayang kepadaku. Katamu kau takut kehilanganku. Pun katamu aku yang terbaik untukmu. Tapi kenapa kau masih mencari yang baik dari yang terbaik, sayang?

Bukankah kau tau jika aku selalu menunggumu disini? Aku selalu menata hatiku disini. Aku selalu membangun tembok rindu disini, agar…

Kisah Dibalik Langit Merah

Bisakah kau hidup tanpa teduhnya wanita, yang di setiap sujudnya terbisik namamu. Dia cerminan sisi terbaikmu, lindungi hatinya. Sekalipun di dalam amarah.
***
Tak terasa sudah dua jam lebih aku duduk berdua dengan  wanita ini. Seorang wanita kuat yang ku kenal sebelumnya. Tak tahu kapan terakhir kali ia menyesap kopinya, hingga kembali ia berkutat dengan buku dan penanya. Kulihat ada nama lelaki itu disana. Ia menuliskannya.
Ingin rasanya aku bertanya dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Tetapi bukankah itu sebuah tindakan bodoh yang akan membuat keruh suasana? Bukankah aku sudah tahu jawabannya bahwa ia tidak baik-baik saja? Dasar lelaki bodoh.
"Ra..." aku memanggilnya.
Ia melihatku. Sejurus kemudian ia melihat ke arah jendela, mencoba untuk mengabaikan keberadaanku.
Langit semakin memerah di luar sana. Begitulah yang kurasakan ketika ia melihat keluar jendela. Tetapi sang langit tak kunjung menunjukkan pengaruh besar kepadanya. Pun bagiku suasana di kafe ini tetap saja tera…

Kepadamu, terima kasih.

Malam itu aku mengadu kepadamu tentang perasaan yang belakangan ini ada. Dia menghampiriku dengan tiba-tiba saat kau tak bercerita tentangnya. Kemarin malam kusinggung tentangnya, begitu juga dengan hari-hari sebelumnya. 
Tapi, pedulikah kau dengan apa yang ku rasa? Tidakkah kau sadar bahwa kenyamanan adalah hal utama? Tapi lihatlah. Kau lari dengan mudahnya tanpa menggubris apa yang sudah ku rasa. Kau terlena dengan anganmu jua hingga ku harus menyimpan asa.
Haruskah aku membalas agar kau juga merasakannya? Atau... Kubiarkan saja karma yang bekerja? Ah, bahkan sedikitpun aku tak pernah berniat untuk membalasnya.
Sudahlah. Mungkin ini sudah akhirnya. Tingkahmu sudah membuatku lelah. Tapi takkan kubiarkan kau membuatku mati perlahan-lahan karenanya. Ku biarkan semua berjalan dengan semestinya karena ku percaya kau pasti akan berubah.
Kepadamu, terima kasih telah membantuku lebih sabar dan bersikap dewasa. Aku menghargainya.
Jogja, 09 Maret, hampir tengah malam.

Ilya. I love you, always.

Saat ini aku duduk di beranda rumah-ditemani secangkir cokelat hangat sambil mencium bau khas tanah yang diperawani oleh hujan-sedang membaca buku yang kau berikan kepadaku. Saat itu kau sedang menggebu-gebu menceritakan kisahnya hingga kau memaksaku untuk tenggelam didalamnya, “Aku rasa kamu harus membaca buku ini deh, yang.” katamu sambil menyodorkan sebuah buku yang tak tahu sejak kapan kau menyukai hal semacam itu. Konspirasi Alam Semesta tertulis dengan jelas menghiasi covernya.
Entah berapa kali telponku bergetar, menandakan banyaknya notifikasi yang masuk. Namun, aku terlalu menikmati kisah yang ditorehkan sang penulis sehingga kabar darimu pun kuhiraukan untuk sejenak. Aku yang terlalu suka akan buku cerita, tak bisa menolak jika seseorang memberiku hal semacam ini. Maka tak ayal jika lemari buku yang berdiri kokoh di kamarku berisi tentang deretan judul cerita yang acapkali membuatku lupa akan dunia, padahal seharusnya buku yang penuh dengan rumuslah yang harus berdiri tegak d…

[Cerbung] Semua Serba Salah

Malam ini tak seperti biasanya, Rina malas untuk belajar ataupun sekedar mengulang materi yang telah diajarkan di kampusnya. Hal ini membuat Rina untuk beralih mengerjakan sesuatu yang lain, sesuatu yang sangat disukainya selain melihat drama korea. Saat itu Rina sedang asyik dengan game puzzle di handphonenya, tak lama hpnya berbunyi menandakan ada telepon masuk. Dari Raka. Seperti biasa, setiap malam mereka bertelepon. Berbagi kisah tentang apa yang sudah mereka jalani, tentang atasan yang ribet, tentang teman-teman Rina yang bawel, tentang pekerjaan Raka, tentang kuliah Rina, bahkan tentang keluarga mereka.
***
“Halo sayang... Lagi apa nih? Ngegame lagi ya?” Raka tahu betul apa yang disuka oleh wanitanya, bermain game salah satunya. “Iya dong, biar gue ga bosen nungguin lo. Lo gitu sih, ribet. Mandi lebih lama dari gue, milih baju lebih ribet dari gue, makan harus ada sambel. Woi cabe mahal woi!” “Hahaha, bisa diganti pake merica kok sayang.” “Pedes merica itu gabagus tau!” “Iya bawel. Uh,…

Kadar Cinta Yang Berlebihan

Semua orang pasti mengetahui apa itu cinta. Tapi hanya sedikit yang bisa mempertahankannya. Banyak cara untuk memeliharanya. Beda orang, beda cerita. Akan tetapi, jangan sampai mengagungkannya. Jika tak mau menyesal di kemudian masa. Ini bukan hanya tentang cinta. Tetapi juga tentang rasa. Tingkat kenyamanan itu berbeda. Dan jangan dilupakan begitu saja. Posesif bukanlah hal yang biasa. Tapi ini luar biasa. Jangan hanya karena kekasihmu jalan dengan teman sebaya, kau lupa akan emosi semata. Tak jarang ketika melakukan kesalahan kecil saja, kau sudah melakukan kontak fisik dengannya. Ingat, posesif bukanlah hal biasa. Sering kali kita menganggap remeh tentang hadirnya suatu kenyataan. Ketika kita sadar akan kekerasan. Ketika sadar akan hadirnya ketidaknyamanan. Sekali lagi, semuanya jangan sampai dilupakan. Karena cinta ada untuk kebahagiaan.
***
Dua hari setelah peluncurannya, aku menonton film posesif di bioskop karena tertarik akan trailernya. Baru sekarang aku bisa menuliskannya karena …