Friday, 1 February 2019

Tentang Dia : Tak Ada Lagi Kita

            

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua, namun tampaknya wanita itu masih saja belum bisa merebahkan diri di atas ranjangnya. Masih sama seperti empat jam yang lalu, di hadapannya terdapat sebuah layar yang cahayanya cukup menusuk mata untuk orang yang tidak terbiasa melihatnya. Terlihat sebuah kursor yang kedap-kedip sedari tadi, dan wanita itu hanya meliriknya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Entah apa yang di pikirkannya sejak tadi. Keheninganlah yang menghiasi seluruh kamarnya malam ini. Hanya bunyi deru mesin komputer yang beradu dengan detak jarum sebuah jam yang berada tepat di sebelah layar yang menyala itu.
Wanita itu menghela nafas. Diraihnya telepon genggam di sebelah komputernya. Dilihatnya notifikasi. Kemudian diletakkannya kembali.
Wanita itu menghela nafas kembali, teringat akan kejadian tempo lalu.

***

Dua minggu yang lalu.

Angin berhembus sangat dingin malam ini, terlihat dari tangan kirinya yang sibuk merapatkan jaketnya dalam dalam ke arah tubuhnya. Di hadapannya telah ada seorang pria yang sedang menggenggam tangannya. Wajahnya tertunduk layu menandakan bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja.
“Maafkan aku.” Akhirnya dia berani angkat bicara setelah sekian lama mereka terdiam dengan suasana yang dingin ini. “Maafkan aku telah mengecewakanmu.”
“Sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Kau sudah kumaafkan tanpa kau meminta. Aku hanya tak ingin dikecewakan olehmu lagi. Rasa percayaku sudah hilang bersama sikap bodohmu waktu itu.” Ucap wanita itu sambil melepaskan genggaman pria di hadapannya.
Namun genggamannya semakin kuat, pria itu membela diri. “Aku tak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku sayang sama kamu. Aku tahu aku salah, tindakanku terlalu bodoh waktu itu. Aku minta maaf.”
Merasa cukup lelah dengan pria yang ada di depannya, wanita itu tak membalas.
Cahaya lampu taman sangat cantik malam itu. Dan hal itu seperti mengkhianati suasana hatinya yang dingin, seperti angin malam ini. Dia hanya diam dan berjalan pergi meninggalkannya. Sama seperti tindakan bodoh pria yang bersamanya tadi, meninggalkannya dan pergi dengan wanita lain.

***

Kembali diraihnya telepon genggam di sebelah komputernya. Dilihatnya notifikasi. Namun, benda kecil itu tidak diletakkannya lagi. Kini wanita itu sudah memantapkan hatinya untuk pergi meninggalkan pria yang sudah mengecewakannya. Diketiknya salam perpisahan dan sejurus kemudian dikirimnya ke alamat email pria itu tanpa ragu.
Kini wanita itu telah siap untuk memulai kisah baru dengan orang baru.





Share:

Tuesday, 22 January 2019

Fatamorgana


Sunday night after a rainy day
I delete all your pictures
I walked away from you

Nights are the hardest
But I'll be okay
If we are meant to be

Yeah we'll find our way
But now let it be

Cause you know what they say
If you love somebody
Gotta set them free

I love you but I'm letting go
I love you but I'm letting go

***

“Kemarin aku liat kamu jalan sama dia.”
“Maaf.”
“Kenapa minta maaf? Kamu ga salah, aku juga. Keadaan yang salah.”
“Tapi tetap aja aku ngerasa engga enak sama kamu.”
“Engga. Aku gapapa.”
Aku diam. Kau juga. Namun tak berapa lama kau kembali angkat bicara, melepas keheningan di antara kita berdua.
“Benar kata Pamungkas, I love you but i’m letting go.
Aku masih diam, tapi kali ini mataku yang berbicara seolah sudah tak kuat lagi untuk menahan segalanya.
Akhirnya pertahananku tumpah, aku menangis. Kau memelukku. “it’s okay.” katamu. Berusaha untuk menenangkanku.

Kini aku berada di dekapanmu. Di dekapan seorang lelaki yang aku kenal dua bulan yang lalu.
“Gapapa kalau kamu lebih memilih dia. Itu hak kamu. Tapi yang perlu kamu tahu, aku bakal selalu ada disaat kamu jatuh.” lagi-lagi kau berusaha untuk menenangkanku, tapi tetap saja aku semakin menangis dibuat olehmu.
“Kamu ga harus bilang kayagitu ke aku.” sanggahku. Kali ini aku benar-benar merasa jahat.
“Kenapa?” kau bertanya dengan heran, terlihat dari kerutan di antara alis lebatmu.
“Karna aku udah jahat sama kamu.”
“Kamu ga jahat kok. Kamu ga pernah jahat sama aku. Malah aku beruntung bisa kenal kamu. Kamu udah buat aku bangkit lagi disaat aku jatuh, support aku bahkan lebih dari keluargaku sendiri. Kamu yang percaya sama semua mimpiku.” Kini kau semakin mendekapku, berusaha mengatakan kalau kau baik-baik saja.

Ntah apa yang aku pikirkan saat ini. Aku hanya berharap kau akan baik-baik saja. Berharap kau akan menggapai semua mimpimu suatu hari nanti. Berharap kau akan selalu bahagia dengan jalanmu sendiri.

Ternyata begini rasanya ketika mencintai seseorang dengan tulus. Membiarkanku berjalan meninggalkanmu sendirian, melihatku membawa separuh hatimu walaupun aku tetap memilihnya. Kau menghargai segala keputusanku meskipun aku tahu itu berat untukmu. Kau baik. Aku tak menyesal mengenalmu. Aku harap kau pun juga begitu. Layaknya sebuah fatamorgana, kau adalah kau yang selalu menjadi bagian dari hidupku, tak ada namun selalu terlihat. Kau akan selalu punya bagian tersendiri di dalam hatiku dan kau akan selalu memilikinya.

***

I love you but I'm letting go
I love you and I'm letting go

And from now on I will hold my own hand
Until one day you'll hold my lonely hand
(Pamungkas - I love you but I’m letting go)
_
Share:

Saturday, 19 January 2019

Hitam dan Putih


Malam itu kau dan aku sedang berada di balkon rumahmu, di tempat favorit kita. 
Aku sandarkan kepalaku di bahumu dan seperti biasa, kau langsung mengusapnya dengan lembut. Aku melihat bintang, memperhatikan bagaimana seharusnya semesta bekerja begitu juga denganmu. Sama seperti malam biasanya, ketika aku dan kau merasa penat dengan dunia, dengan semua yang telah kita jalani, kau dan aku akan kabur kesini, ketempat ini untuk melupakan sejenak apa yang telah terjadi. Aku tak tahu kenapa bisa merasa nyaman dengan hal sederhana seperti ini, tapi tak masalah jika bersama denganmu.

“Bey.”
Aku memanggilmu.
“Iya?”
“Kenapa?” kau bertanya kembali. Memastikan apakah aku baik-baik saja setelah diam usai memanggilmu saat itu.
“Dari sekian banyak warna di dunia ini, warna apa yang akan kau berikan padaku?”
“Hitam.” kau spontan menjawabnya.
“Hitam?” aku tampak bingung.
“Iya, hitam dan putih.” aku diam. masih bingung dengan jawabanmu.

Aku memutar otak. Bertanya-tanya akan jawabanmu.
Hitam?
Kenapa harus hitam?
Bukan, bukan itu jawaban yang aku mau.
Dari sekian banyak warna, kenapa hanya hitam dan putih yang kau beri untukku? Padahal ku rasa kau punya banyak pilihan lain untuk itu.

Jingga misalnya. Tapi saat aku memintanya, kau menolaknya mentah-mentah.

”Aku mau jingga.” kataku malam itu.
“Jingga sudah terlalu banyak disukai banyak orang. Kau yang lain saja.”
“Bagaimana kalau merah muda?”
“Aku benci merah muda.”
“Kalau begitu, aku mau biru.”
“Biru apa?” kau bertanya, mungkin bingung dengan pilihanku kali ini.
“Biru tua. Warna kesukaanmu.”
Aku melihatmu. Kau diam, tampak ragu.
Tak lama kau mengangkat dagu, melihat ke arahku, “Mungkin ada baiknya aku memberikanmu hitam dan putih saja.”
“Kenapa? Bukannya ada warna lain yang lebih bagus dari hitam dan putih? Abu misalnya?”
“Aku tahu.”
“Jadi kenapa kau memberikan hitam dan putih?”
“Karna kau spesial.”
“Bagaimana bisa?” tanyaku penuh harap.
“Kau begitu spesial sampai aku tak tahu harus memberimu warna apa. warna jingga, merah muda, bahkan warna kesuakaanku gak akan cukup untukmu. Aku rasa warna-warna itu akan memudar tetapi putih tetaplah akan menjadi putih, dan hitam akan selalu menjadi hitam.” kau menjelaskan dengan begitu semangat kepadaku, dan aku masih belum paham maksudmu.
“Lantas, apa hubungannya denganku?”
“Kau seperti hitam dan putih. Karena kau adalah kau. Aku tak mau kau berubah seperti warna lainnya. Dan bagiku, kau spesial.”
Aku menciummu tepat setelah mendengar penjelasanmu dan kau bertanya dengan heran, “Kenapa kau menciumku?”
“Karena aku takjub dengan jawabanmu.” kataku.
“Iya, aku tahu kau akan takjub.”
“Lantas kenapa kau bertanya padaku?” kau membuatku heran. Untuk kesekian kalinya.
“Iya, maksudku, kenapa harus di bahuku?”
“Karna kau spesial.”
“Jawaban yang aneh.” katamu.
“Aku belajar darimu.” jawabku membela diri.
Kau tertawa, begitu juga denganku.
Dan malam itu kita tutup dengan suara tawa bahagia kita berdua.
Dan malam itu pula, aku merasa spesial dari biasanya.
Share:

Tuesday, 17 April 2018

Tentang Dia



Iringi aku sayang
Aku pergi untukmu
Merangkai mimpi lewati waktu
Semua itu jalan kita
Akan ku jaga, kubina slamanya
Rasa didalam hati, walau diriku jauh
Kuingin kau menunggu, sampai kudatang padamu

(Seandainya - Sheila On 7)

***

Aku selalu bertanya-tanya, apakah kau sudah lelah untuk merindukanku? Mendengar suaraku saat malam tiba? Berkisah tentang hal apapun kepadaku?  Apakah kau sudah lelah, sayang?

Saat kau bersamanya, apakah kau memanggilnya seperti kau memanggilku saat bersamaku? Aku ingin bertanya, apakah sama rasanya, sayang?

Kau bilang itu caramu agar tak bosan terhadapku. Katamu juga, semua itu tak berarti apa-apa buatmu. Tapi apakah kau tahu, itu selalu membunuhku perlahan-lahan di setiap waktu?

Katamu kau sayang kepadaku. Katamu kau takut kehilanganku. Pun katamu aku yang terbaik untukmu. Tapi kenapa kau masih mencari yang baik dari yang terbaik, sayang?

Bukankah kau tau jika aku selalu menunggumu disini? Aku selalu menata hatiku disini. Aku selalu membangun tembok rindu disini, agar saat pulang nanti, aku bisa menghancurkan tembok itu di dekapanmu.

Kau masih menjadi pemilik hatiku. Kau masih menjadi pemiliknya. Kau masih menjadi sosok yang selalu aku butuhkan. Terlebih, kau masih menjadi tempatku untuk pulang. Apakah kau tahu itu, sayang?

***

Medan, 18 Maret 2018
Diselesaikan sambil menunggumu tiba.
Share:

Saturday, 10 March 2018

Kisah Dibalik Langit Merah


Bisakah kau hidup tanpa teduhnya wanita, yang di setiap sujudnya terbisik namamu.
Dia cerminan sisi terbaikmu, lindungi hatinya.
Sekalipun di dalam amarah.

***

Tak terasa sudah dua jam lebih aku duduk berdua dengan  wanita ini. Seorang wanita kuat yang ku kenal sebelumnya. Tak tahu kapan terakhir kali ia menyesap kopinya, hingga kembali ia berkutat dengan buku dan penanya. Kulihat ada nama lelaki itu disana. Ia menuliskannya.

Ingin rasanya aku bertanya dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Tetapi bukankah itu sebuah tindakan bodoh yang akan membuat keruh suasana? Bukankah aku sudah tahu jawabannya bahwa ia tidak baik-baik saja? Dasar lelaki bodoh.

"Ra..." aku memanggilnya.

Ia melihatku. Sejurus kemudian ia melihat ke arah jendela, mencoba untuk mengabaikan keberadaanku.

Langit semakin memerah di luar sana. Begitulah yang kurasakan ketika ia melihat keluar jendela. Tetapi sang langit tak kunjung menunjukkan pengaruh besar kepadanya. Pun bagiku suasana di kafe ini tetap saja terasa dingin walaupun dipenuhi oleh manusia lainnya.

Wahai langit, bukankah seharusnya kau bisa membuat wanita ini menghangat karena warnamu? Ayolah, tunjukkan kehebatanmu.

Aku memandangnya. Yang dipandang masih melihat ke arah jendela. Masih setia dengan langit berwarna merah. Aku terus memperhatikannya. Aku melihat ketulusan yang ada padanya. Ketulusan yang membawa cinta ada bersamanya.

Tetapi, bukankah wanita tetaplah seorang wanita?

Aku tak habis pikir, lelaki mana yang tega membuatmu menjadi sendu hingga berbicara pun tak mau. Sejauh aku bersamamu, selama dua jam berlalu, belum ada satu kata pun yang keluar dari mulutmu.

'Ayolah, ucapkan sesuatu. Jangan menjadi begitu kelu. Kemana dirimu yang dulu, hai wanita?'

"Ra..." aku memanggilnya, masih belum menyerah. Ia masih melihatku, sama seperti saat kupanggil namanya kali pertama. Tetapi kini tak lagi melihat ke arah jendela. Ia menyesap kopinya dan berkutat kembali dengan kopi dan penanya.

Lagi-lagi kulihat nama lelaki itu tertulis disana, sejurus kemudian ia pun menumpahkan pertahanannya.

Ia menangis.

'Apa lagi yang dilakukan lelaki itu terhadapmu? Bukankah kau sudah berjanji kepadaku akan bahagia bersamanya tempo lalu?'

Aku memegang tangannya, berharap bisa merasakan semua yang dirasakannya. Pertahanannya semakin goyah terlihat dari air matanya yang kian deras. Kupeluk ia. Berharap bisa menguatkannya.

'Sudahlah Ra. Lupakan ia. Simpanlah ketulusan dan kekuatanmu untuk pria yang menganggapmu ada. Lupakan ia yang sering membuatmu kecewa. Ra, kuatlah, aku akan selalu ada walaupun kau tak pernah menganggapku ada.'

***

Jogja, 10 Maret, hampir tengah malam.
Diselesaikan sambil memutar lagu Teduhnya Wanita dari Raissa berulang kali.
Share:

Friday, 9 March 2018

Kepadamu, terima kasih.


Malam itu aku mengadu kepadamu tentang perasaan yang belakangan ini ada. Dia menghampiriku dengan tiba-tiba saat kau tak bercerita tentangnya. Kemarin malam kusinggung tentangnya, begitu juga dengan hari-hari sebelumnya. 

Tapi, pedulikah kau dengan apa yang ku rasa? Tidakkah kau sadar bahwa kenyamanan adalah hal utama? Tapi lihatlah. Kau lari dengan mudahnya tanpa menggubris apa yang sudah ku rasa. Kau terlena dengan anganmu jua hingga ku harus menyimpan asa.

Haruskah aku membalas agar kau juga merasakannya? Atau... Kubiarkan saja karma yang bekerja? Ah, bahkan sedikitpun aku tak pernah berniat untuk membalasnya.

Sudahlah. Mungkin ini sudah akhirnya. Tingkahmu sudah membuatku lelah. Tapi takkan kubiarkan kau membuatku mati perlahan-lahan karenanya. Ku biarkan semua berjalan dengan semestinya karena ku percaya kau pasti akan berubah.

Kepadamu, terima kasih telah membantuku lebih sabar dan bersikap dewasa. Aku menghargainya.

Jogja, 09 Maret, hampir tengah malam.
Share:

Monday, 11 December 2017

Ilya. I love you, always.



Saat ini aku duduk di beranda rumah-ditemani secangkir cokelat hangat sambil mencium bau khas tanah yang diperawani oleh hujan-sedang membaca buku yang kau berikan kepadaku. Saat itu kau sedang menggebu-gebu menceritakan kisahnya hingga kau memaksaku untuk tenggelam didalamnya, “Aku rasa kamu harus membaca buku ini deh, yang.” katamu sambil menyodorkan sebuah buku yang tak tahu sejak kapan kau menyukai hal semacam itu. Konspirasi Alam Semesta tertulis dengan jelas menghiasi covernya.

Entah berapa kali telponku bergetar, menandakan banyaknya notifikasi yang masuk. Namun, aku terlalu menikmati kisah yang ditorehkan sang penulis sehingga kabar darimu pun kuhiraukan untuk sejenak. Aku yang terlalu suka akan buku cerita, tak bisa menolak jika seseorang memberiku hal semacam ini. Maka tak ayal jika lemari buku yang berdiri kokoh di kamarku berisi tentang deretan judul cerita yang acapkali membuatku lupa akan dunia, padahal seharusnya buku yang penuh dengan rumuslah yang harus berdiri tegak di lemari itu.

Di suatu halaman aku tertegun. Tertulis kata Ilya disana. Mengingatkanku akan pesanmu tempo lalu. Ihh, dasar! batinku. Tak ada aba-aba, senyum mengembang menghiasi wajahku tanpa permisi. Aku baru menyadari bahwa kau tak lebih dari seorang lelaki yang berusaha untuk menggodaku tempo lalu. Sebelum membaca buku ini pun, aku terheran-heran karena pesanmu. ‘Ilya’. Hanya itu yang kau kirimkan kepadaku. Aku bertanya. Sejurus kemudian pesanmu masuk, ‘I love you, always :)'. Senyumku mengembang kembali saat mengingatnya, dan kali ini memperlihatkan gigiku yang dihiasi oleh kawat berwarna.

Sesederhana itu kau bisa membuatku bahagia. Aku tak tahu apakah aku yang terlalu gampang untuk digoda, atau kau yang terlalu ahli dalam hal semacam itu. Aku tak tahu. Pun tak lagi kupikirkan tentang itu, aku hanya ingin menikmati prosesnya. Aku suka untuk kau buat bahagia. Aku suka saat hatiku menghangat dan aku sangat suka saat jantungku berdebar walau kutahu kata-kata itu hanya kau contek dari sebuah buku yang sangat kau sukai belakangan ini.

Kemudian pikiranku langsung melayang mengingat kebersamaan kita kala itu, sebelum akhirnya kau dan aku terpisah antar pulau. Aku dan kau berada di dalam sebuah gerbong kereta api. Berbagi kisah, canda dan tawa bersama. Tak jarang juga perutmu menjadi sasaran empuk cubitan mautku hingga aku harus melihatmu menahan aduh akibat ulahku. Hahaha, aku bahagia.

Aku mengerti bahwa sebuah hubungan tak harus diperlihatkan kepada dunia. Aku tahu bahwa kau menyayangiku tanpa harus kau menggodaku dengan kata ‘ilya’ yang kau contek dari buku itu. Aku tahu bahwa kau akan menjagaku tanpa harus kau ingatkan aku makan karena terkadang aku tak sadar akan penyakitku. Aku tahu bahwa kau merindukanku... di kota kelahiranku.

Kini kita sudah terpisah jauh. Aku tak khawatir untuk meninggalkanmu di kota itu. Aku percaya padamu. Tunggulah aku di kota itu membawa sekantong rindu untuk bisa berada di dekapanmu. Ah, aku benci dengan suasana melankolis seperti ini. Ingin sekali aku berhenti berkisah tentang dirimu, karena aku benci saat aku tenggelam oleh dirimu. Terlebih, aku benci untuk merindukanmu.


Untuk kamu, aku mencintaimu.
Share: